♥ PART-SATU ☺
Gerbang SMA
“ Penghianatan “
Wajah langit tampak sendu terbalut awan berwarna jingga, menemani kepiluan itu. Pilu hati gadis yang sedang dirundung lara. Duka teramat dalam menembus jantungnya… Penghianatan.
Desau angin terdengar parau bergemuruh riuh, menemani kemarahan itu. Amarah jiwa gadis yang sedang dirundung kecewa. Pedih teramat dalam menembus batinnya… Penghianatan.
Apabila sabar ini telah koyak, mengkinlah darah telah bertumpah diatas puing bahagiaku.
Apabila kalbu ini telah punah, mungkinlah kuakhiri dengan matimu, kawan.
Ketika sampai pada pelupuk mataku, tak sanggup pula air itu menetes. Terlalu sakit hingga tak tahu lagi rasanya… Penghianatan.
Bilamana murka ini harus tertumpah, kuharapkan tak masa ini. Kelak saja ku bangun dukamu, lalu ku tersenyum... Ku tertawa… Penghianatan.
5 April 2010,
Cininta Karala
Ninta baru saja menyelesaikan puisinya yang menjadi tugas Bahasa Indonesia terakhirnya di Sekolah Menengah Pertama.
Malam itu, pak Herman, ayah Ninta, belum pulang dari bekerja sebagai sopir pribadi Tuan A Lee yang tinggal di sebuah perumahan elit yang cukup jauh dari kampung tempat tinggal keluarga Ninta. Ninta dan bu Alya, ibunya, menikmati makan malam sederhana mereka berdua di ruang makan seluas 3 x 3 meter di bagian tengah rumah mereka.
“Ibu, Ninta mau lanjut Sekolah Menengah Pertama. Ayah ada uang kan? Cukup kan?”
“Iya, Ninta, ada uangnya… Tapi kalau bisa kamu cari beasiswa, Nak. Ibu takut di tengah-tengah kita benar-benar gak ada uang dan kamu harus berhenti”
“Iya, Bu. Ninta kan tiga besar terus! Masa sih guru-guru itu gak bisa bantu. Katanya mereka pahlawan. Mana sisi heroiknya? Kalau bantu biaya gini aja gak mau. Untuk peserta didik yang berprestasi pula”
“Hus, gak baik berpikir negatif begitu…”
“Gimana negara ini mau maju? Kalau untuk mengenyam pendidikan aja, yang notabene tolak ukur kemajuan bangsa, mahalnya minta tolong!”
“Gimana ngga mahal? Tenaga pendidik sedikit, peserta didiknya banyak. Coba kamu introspeksi diri kamu sendiri dulu, mau jadi guru?”
“…”, Ninta menunduk malu.
Bu Alya tersenyum.
Esok harinya di sekolah, Ninta menemui guru andalannya, seorang guru Biologi kebanggaannya, pak Tulus. Mencoba dengan segala daya upaya mengajukan beasiswa. Akhirnya, pak Tulus pun membantu segala proses pengajuan beasiswa untuk Ninta. Mereka berhasil. Ninta mendapatkan beasiswa pendidikan 100% untuk pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Depok.
Hari itu hari Senin, 28 Juni 2010. Pagi itu adalah pagi pertama Ninta berangkat sekolah dengan seragam putih - abu-abu, lengkap dengan dasi, topi, dan ikat pinggang. Dengan penuh semangat dan antusiasme tinggi, Ninta menempuh jarak seratus kilometer lebih menggunakan kendaraan umum dengan spesifikasi tiga kali transit dan secepat-cepatnya dapat tiba di tujuan dalam waktu kira-kira satu setengah jam.
Malam harinya, Ninta berdoa:
“Terimakasih ya Tuhan, untuk kehendak-Mu yang indah ini, yang mengijinkan hamba-Mu menimba ilmu pengetahuan di jenjang yang lebih tinggi… Agar aku memahami keagungan-Mu dengan lebih baik, mensyukuri rahmat-Mu dengan lebih baik, dan mencintai ciptaan-Mu dengan lebih tulus”.
♥ PART-DUA ☺
Cakrawala Pertama
Ninta menempati kelas X-2 dan akrab dengan lima wanita berbeda latar belakang dan penampilan, apalagi wajah dan postur. Mereka bernama Chandrika (Cha), Fiona (Fio), Renata (Nata), Gendis, dan Klarisa (Risa).
“Ninta! Bawa buku Geo gak? Gue mau bikin contekan buat ulangan entar”, teriak Nata yang berlari dari arah lapangan menuju ke meja kantin tempat Ninta dan yang lainnya duduk.
“Gila lo? Contekan? Ngapain sih pake contekan segala! Belajar makanya”
“Eh, lo pengertian dikit dong, otak lo encer, otak gue?!“
“Yaudah ambil sendiri sana di tas gue. Makanya jangan kencan mulu sama bola basket!”
“Hehe…”, Nata pun nyengir lugu.
Suasana kantin siang itu tidak terlalu ramai, sehingga para siswa dari meja ke meja dapat saling memandang. Tampak lah oleh mata Ninta, sesosok pria bernama Reno, yang kalem, namun tidak ansos dan cukup ramah.
“Ta? Lo ngeliatin siapa?”, ujar Chandrika membuyarkan pandangan Ninta.
“Ng… Ngga kok, bukan siapa-siapa”, jawab Ninta.
“Sorry jb, Reno emang ganteng. Dia pinter, jago bikin puisi, temen SMP gue. Lo tenang aja, kita usahain bareng-bareng”, ujar Risa.
“ADA APAAN SIH?!”, jawab Ninta.
“Cieeee salting tuh saltingggg yakan yakan? Hahaha salting ya Nintaaa”, Chandrika, Gendis, Fio, dan Risa meledek Ninta.
“…”, Ninta speechless.
Hari itu berjalan dengan sangat menyenangkan bagi Ninta, sepulang sekolah, dia memamerkan nilai sempurna untuk ulangan pertama Biologinya, dan nilai 95 untuk ulangan pertama Fisikanya kepada ibunya. Setelah makan siang, Ninta pergi ke teras belakang rumahnya, tepat di hadapan begitu banyak pohon pisang, dia duduk di sebuah kursi bambu dan mulai menggesekkan dawai itu pada senarnya. Benda itu adalah peninggalan dari almarhum kakek Ninta.
Ninta memang sangat mahir memainkan biola, mungkin juga karena darah seni kakeknya mengalir dalam dirinya, ditambah lagi Ninta telah diajar bermain biola oleh kakeknya sejak ia berusia 7 tahun. Ia pun berkecimpung di dunia musik sejak lulus Sekolah Dasar. Ia mendapat jaringan pertemanan yang cukup luas dengan para pemusik dari tempat ia kursus biola. Ninta mendapat beasiswa 50% untuk biaya kursus biolanya. Entah karena suasana hatinya yang jadi tak menentu karena Reno atau hanya karena hasrat hatinya, Ninta memainkan lagu-lagu cinta sepanjang petang itu.
“Yah, Bu, kalo udah gede, Ninta mau buat chamber super besar yang bawa nama Indonesia ke panggung musik dunia hehe”, Ninta membuka topik di saat makan malam bersama ibu dan ayahnya.
“Belajar yang bener, cita-cita harus tinggi. Kenapa kamu gak coba jadi astronot atau ahli botani?”, jawab sang ayah.
“… “
-Kenapa sih lo gak pernah biarin gue jadi yang gue mau? HAH?!- Gerutu Ninta dalam hati.
Esok harinya, Ninta ke sekolah seperti biasa. Tetapi, ada yang spesial di hari itu, ditengah hiruk pikuk ramainya kantin pada jam istirahat pertama…
“Ninta, ya? Gue mau ngomong deh…”
“Iya. Lo Reno kan? Ngomong apaan?”
“Ribet kalo disini! Rame, berisik haha bisa di tempat lain?”
“Yaudah ke kelas lo aja yuk”
Merekapun berjalan ke kelas Reno, lalu duduk di koridor.
“Gini, gue liat blog lo dan gue… Kagum banget”
“Wait wait wait wait. Lo tau nama gue, gue kaget. Sekarang, lo tau alamat blog gue, gue makin kaget…”
“Haha pas kita baru banget friend di FB, yang lo add gue itu, pas banget status lo quotation gitu, keren abis… Langsung deh gue buka blog lo. Dugaan gue gak salah”
“Emang apaan dugaan lo?”
“Bakat nulis lo! Jenius abis lo gila haha dewa banget lo. Jujur, gue peminat sastra dan olahraga. Hal-hal berbau dua hal itu gak mungkin gak narik perhatian gue”
-Gue? Gue?? Narik perhatian lo gaaaak? Sumpah nih jantung gue mau copot banget duduk deket lo nyet!- Ucap Ninta dalam hati.
“Masa? Berlebihan sih, tapi makasih ya hehe”, Ninta tersenyum, senyuman termanis yang pernah menghiasi wajahnya.
“Hehe sama-sama. Kalo gue tanya-tanya, dijawab ya, jangan pelit ilmu ya hehehe. Anyway, gue cabut dulu deh, ditunggu Dion di bawah, mau sekalian ke kelas lo?”
“Ooh oke oke. He eh gue sekalian ke kelas deh…”
-Jalan di sebelah lo, udah kayak jalan di taman Eden… Lo Adam, gue Hawanya. Rasanya pengen megang biola kesayangan gue detik ini dan mainin Endless Love… Buat lo- Ucap Ninta dalam hati.
Siang itu sepulang sekolah, Ninta mengikuti ekskul Paduan Suara. Ninta adalah pengiring Paduan Suara sekolah, ia memang belajar bermain piano secara otodidak sejak berusia 8 tahun, menggunakan piano milik keluarga Tuan A Lee. Ia mulai disibukkan oleh konser-konser dan lomba-lomba ketika ia duduk di bangku kelas 8 SMP, dan mulai jarang berkunjung ke rumah Tuan A Lee untuk berlatih piano. Namun, ia telah mahir memainkan alat musik itu. Kepiawaiannya dalam bermain piano tidak hilang tergerus waktu, tetapi justru semakin matang berkembang dalam dirinya.
Malam harinya, Ninta berdoa:
“God, I need that right guy just to get me the right way. Apakah berlebihan jika aku meminta-Mu memberikan dia sebagai pendampingku? Aku, hamba-Mu, lelah dengan rasa sakit… Salahkah bila satu dari seribu kisah cintaku berakhir bahagia? Dosakah, ya Tuhan? Namun, tetap kuserahkan hidup ini dalam kehendak-Mu”
♥ PART-TIGA ☺
Nintarrotarala
Pukul 05.20 pagi, ketika fajar bahkan belum terbit, Ninta telah bergegas menuju sekolah. Tiba di sekolah tepat 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.
“Good Morning Risaaaaa! I feel so good and I can’t stop smiling and singing all day and night long. All year and week long”, sapa Ninta dengan mata berbinar ketika memasuki kelas.
“What the hell lo prepare speech yak? Wkwk pagi buta udah bacot English aje”
“Huahua gue speech masih minggu depan kali. Eh! Kita UAS 1 dua minggu lagi ya?”
“Tingkat apaan itu? Semangat ya! Iya nih gue Kimia gak ngerti apa-apaan”
“Propinsi nih, kemaren kota gue juara 3. Bego banget gara-gara durasinya kelebihan semenit. Such hell, dude! Kimia? Yang mana yang gak ngerti? Nanti belajar bareng aja”
“Yaudah nanti di propinsi lo menangin, Ta! Banyak. Ayok deh, lo kan jenius noh otak Einstein kan nyangkut dikit di elo”
“BISA BISAAAAAA apa kata lo aja deh, Sa”
Hari-hari berlalu, speech contest pun telah terlewati... Lalu, tiba waktu upacara bendera.
“Pengumuman-pengumuman”, ujar protokol upacara.
“… SMA Negeri 6 Depok mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih oleh ananda Cininta Karala sebagai juara ke-dua dalam speech contest tingkat propinsi Jawa Barat”, ujar kepala sekolah.
“Kepada ananda Cininta Karala dari kelas X.2, dimohon untuk segera maju ke depan untuk menerima penghargaan dan uang senilai 350.000 rupiah”, ujar bu Rachma, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
Ninta mendapat ucapan selamat dan pelukan hangat dari Chandrika, Fio, Risa, Nata, dan Gendis.
“Ta, hebat banget lo!”, ujar Gendis.
“Thanks! Without you guys’ support, I’m nothingggg!”, jawab Ninta.
Ninta berjalan diiringi tepuk tangan meriah dari seluruh peserta upacara.
Hari itu penuh dengan jabatan dan ucapan selamat untuk Ninta. Hampir semua siswa yang mengenal Ninta menjabat tangannya dan mengucapkan selamat, tak terkecuali…
“Ninta! Selamat ya! Gokil lo emang dewa segala dewa hehe”, ujar Reno seraya menggamit tangan Ninta dan menjabatnya hangat.
“Ren! As always deh, berlebihan lo hehe but after all, thanks banget buat segala pujian lo yang kelewat lebih itu”, sahut Ninta.
“Yang penting kan datengnya dari hati, Ta”, Reno tersenyum lebar.
Ninta dengan hati berbunga-bunga pun membalas senyum Reno dengan wajah berseri.
Bel pulang berbunyi, Ninta bergegas pulang, tak sabar dengan bahan pamerannya hari ini.
“Buuu Ninta pulang”, ujar Ninta ketika hendak memasuki rumah.
“Iya, Nak…”, jawab ibunya dari dalam rumah.
Ninta pun segera masuk setelah melepas sepatunya. Ia dikejutkan oleh sesosok gadis di ruang tamu rumahnya, yang tidak lain adalah sahabat Ninta di SMP.
“Saffffff!!!”, seru Ninta seraya memeluk erat Safira, sahabatnya itu.
“Hehe kaget gak? Sorry ya gapake sinyal gue maen dateng aja”, sahut Safira.
“Gapapa-gapapa! Kangen banget, Saf…”
Safira membalas ucapan Ninta hanya dengan senyum haru.
Kehadiran Safira membuat Ninta lupa akan niatnya memamerkan kemenangannya pada ibunya, Ninta mengajak Safira untuk duduk dan berbincang. Kemudian, selang beberapa menit berbincang seputar kehidupan mereka di SMA, Safira membuka tasnya dan mengambil sesuatu. Satu set kartu.
Kartu itu tampak berukuran hampir dua kali lipatnya kartu remi. Ia bergambar dan berwarna, tetapi bukan kartu UNO. Safira meletakkannya di atas meja, lalu menoleh ke arah Ninta, yang sedang menatap heran tumpukan kartu itu, sambil menaikkan kedua alisnya dan menyeringai.
“Itu kartu raksasa gimana megangnya? Kalo buat main capsa buyar aja semua bejatohan haha”, Ninta pun angkat bicara.
“Ini bukan buat maen capsa, nyet. Sini-sini…”, Safira meminta Ninta mendekat.
Ninta segera menyendengkan telinganya persis ke depan bibir Safira.
“Ini Tarrot…”, bisik Safira.
Ninta membelalak.
“Gila lo! Ini kartu setan kan? Yang buat ngeramal kan?”, ujar Ninta dengan nada suara tinggi, namun volume super kecil.
“Ini jadi kartu setan kalo lo percaya ini datengnya dari setan. Tapi kalo lo yakin ini dateng dari roh baik, ya keyakinan lo itulah yang terjadi. Things happen or done just by your believeness”, dengan tenang Safira menjawab.
“Lo ngerti, Saf?”
“Yup! Sekarang, gue mau ngeramal lo”
“Hmmm… Ini bisa ngeramalin apa aja?”
“Karir dan percintaan”
Tanpa membuang waktu lagi, Safira segera mengacak kartu tersebut, kemudian mengambil kartu satu-persatu secara acak, dan menyusunnya menjadi suatu deretan kartu dengan bentuk sisi kubus. Kartu dalam keadaan tertutup.
“Well, sekarang lo ambil satu persatu secara acak, susun ulang di sebelah sini langsung dalam keadaan terbuka. Mulai nyusunnya dari bawah ke atas, melengkung dengan titik tengah. Jadi, harus simetris”, tutur Safira menjelaskan.
Ninta, masih dengan raut wajah bingung, takut, dan penuh keraguan, memutuskan untuk melakukan saja seperti apa yang dikatakan Safira. Satu-persatu kartu diambilnya secara acak, sesuai dengan kata hatinya. Setelah selesai, Safira segera membaca arti kartu-kartu tersebut.
“Ini adalah hasil ramalan untuk karir lo. Hm, gue males kalo artiin satu-persatu, bakal panjang banget dan bertele-tele. Langsung aja ke kesimpulan dari semua kartu ini… Gimana?”
Ninta mengangguk.
“Oke. Seumur hidup gue, gak pernah gue temuin kartu karir sebagus punya lo. Bahkan, gue gak nyangka kalo ada orang yang ditakdirin karirnya sebagus ini. Lo bisa liat sendiri disini… Dimana-mana emas, berarti kejayaan. Dimana-mana tahta, berarti kekuasaan. Jabatan lo bakal sangat tinggi dan harta lo gokil nyet! Lo akan dihormati dan dikagumi banyak orang. Lo akan sangat sukses. Kendala yang perlu lo hindari adalah kerjasama. Ketika lo mengandalkan banyak orang, lo akan jatoh karena dihianati. Tentuin orang kepercayaan lo dengan jumlah sangat sedikit dari awal lo mulai karir lo”
Ninta tersenyum lega, sambil berharap itu memang kenyataan di masa depannya. Ia pun mulai antusias dengan ramalan Safira. Setelah melihat ekspresi Ninta, Safira melanjutkan permainan.
“Ta, sekarang kita akan ramal percintaan lo”
“Lah? Beda kartu?”
“Beda. Lo acak lagi kartunya dalam keadaan tertutup, terus ambil Sembilan kartu satu-persatu secara acak. Baru deh lo susun bentuk kubus 3 x 3. Oh ya, dalam keadaan tertutup. Yang buka harus gue”
Ninta melakukan lagi seperti apa yang dikatakan oleh Safira. Setelah selesai, tiba saatnya bagi Safira untuk membaca kartu-kartu tersebut.
“Udah? Gue buka ya?”
Ninta mengangguk.
“Yang ini gue baca satu-persatu…”
Kartu pertama dibuka oleh Safira. Raut wajah Safira berubah drastis. Ia mengerutkan dahi dan menggeleng. Tanpa penjelasan, Safira tidak jadi membuka kartunya satu-persatu, melainkan segera membuka semua kartu dengan wajah panik.
”Ini gak mungkin! Mana mungkin ada kartu kayak gini?!”
Ninta terheran-heran.
“Ta, mungkin lo gak siap denger ini. Percintaan lo… Lo bisa liat sendiri ya disini, dimana-mana gelap, hitam. Semua kartu lo hitam, Ta! Ini gak pernah terjadi dalam seumur hidup gue megang Tarrot!”
“Tenang, Saf… Tenangin diri lo deh. Hm, to the point aja, it means?”, ujar Ninta seraya memaksakan diri tersenyum.
“Oke. Gue artiin ya. Pertama, percintaan lo penuh penghianatan. Terus, setiap ada orang ketiga, selalu orang yang lo kenal, bahkan temen deket lo. Hampir semua pria yang mengisi hati lo, gak menempatkan lo pada posisi ‘istimewa’ di hati mereka… Kebanyakan dari mereka kagum sama lo dan rasa kagumnya menutup pintu kemungkinan hadirnya cinta rapat-rapat. And then, lo liat nih yang ini, ini menggambarkan air mata… It means, dalam setiap kisah cinta lo, isinya air mata, dan itu terjadi di pihak lo doang. Kartu yang itu deh lo liat ya, itu menggambarkan penusukan dari berbagai arah. Kebanyakan orang dapet kartu ditusuk dari belakang. Lo? Dari berbagai arah. It means, lo disakitin gak cuma secara halus, tapi juga secara sadis, dan gak cuma oleh pasangan lo seorang. Sekian. Itu adalah arti kartu-kartu lo. Ini bukan gue yang ngomong, ini hasil ramalannya. Terjadi atau ngga gue gak bisa jamin, lo percaya atau ngga juga bukan hak gue mutusin”
Ninta tampak tidak terkejut. Raut wajahnya tidak berubah, masih dengan senyum terpaksanya itu.
“Lo tau, Saf… 80% dari yang lo omongin udah pernah gue alamin. Mungkin, ini kesimpulannya. Itu semua emang menjadi cerita abadi buat gue”
“Ta…”, Safira menatap Ninta dalam-dalam.
Ninta menahan senyumnya. Senyum terpaksanya itu.