"
Beribu pulau,Bersekat air,
Indonesia.
Kemerdekaan hanya di atas kertas.
Penjajahan tidak pernah benar-benar hilang.
Peperangan tidak pernah benar-benar usai.
Di atas kertas, kita kaya.
Di atas kertas, kita jaya.
Di atas kertas, kita makmur, kita sejahtera, kita gemah ripah lorjinawi.
Berpijak di atas tanah, tetapi hidup di atas kertas.
Hidup dalam kesemuan.
Yang telah direbut tidak pernah benar-benar dimiliki.
Dalam keegoan yang membara, nasionalis itu musnah, patriotis itu pupus.
Hatiku tersentak, batinku tersayat.
Memandang Dwi Warna, berbalut air mata pertiwi.
Berkelut meratapi masa kelamnya.
Tatapnya menggetarkan rusukku, menabuh dadaku.
Darahku mendidih, aku terpacu.
Demi setiap tetes darah pahlawan, setiap derita pendiri bangsa.
Cintaku adalah tulus untuk Indonesia, tekadku adalah teguh untuk Indonesia.
Asaku, citaku, harapan baru untuk Indonesia.
Akan ada hari kepulihannya.
Ia bukan pemimpi, ia pejuang sejati.
Ia yang lama tenggelam, akan berdiri di tepian.
Memijakan kakinya di pesisir dunia.
No comments:
Post a Comment